Obat dan Terapi Kista, Mioma, Endometriosis, Benjolan Payudara dan Tumor Selain Operasi

Sering Berhubungan Seksual Memicu Kanker Mulut Rahim

Semua perempuan tahu bahwa kanker mulut rahim (serviks) adalah momok. Selain ada obatnya, kanker ini berujung pada kematian. Masalahnya, banyak yang belum tahu dan sadar bahwa kanker jenis ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor ini disebabkan sering berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda.

Menurut dr Ivan R Sini, SpOG, MD, FRANZCOG GDRM, Spesialis Kebidanan dan Kandungnan dari Bunda International Clinic, Jakarta, kanker mulut rahim belum diketahui penyebabnya. Menurut penelitian terbaru, virus HPV adalah salah satu pemicunya. Virus ini menjangkiti wanita jika pasangannya mengidap virus itu.

Wanita perokok juga rawan terkena kanker ini karena nikotin mempengaruhi selaput lendir. "Pengidap kanker ini biasanya perempuan usia produktif, aktif berhubungan seksual, sering berganti pasangan seksual, kawin dalam usia relatif muda (kurang dari 17 tahun) dan sering melahirkan," terangnya.
Gejala kanker mulut rahim adalah keputihan yang lama dan tidak diobati dengan baik, keputihan yang berbau, terjadi pendarahan (contact bleeding) pada saat berhubungan seksual. Pada tahap displasia sampai stadium 1, praktis tanpa keluhan. Baru menginjak stadium 1A-3B terdapat keluhan. Pada stadium 4B sel kanker sudah menjalar ke otak dan paru-paru.

Menurut Ivan, hampir 90 persen kasusnya berasal dari epitel permukaan (epitel skuamosa), di mana ditemukan keadaan yang disebut pembakal kanker atau prakanker, mulai dari yang ringan sampai menjadi karsinoma in situ (stadium 0) yang semuanya dapat didiagnosa dengan screening. Dalam perkembangannya, terjadi perubahan atau perpindahan dari satu tingkat ke tingkat yang lain.

Untuk berubah, diperlukan keadaan yang "cocok". Sehingga untuk menjadi kanker diperlukan waktu 10-20 tahun. Namun, jika sudah menjadi kanker stadium awal, penyakit ini dapat menyebar ke daerah di sekitar mulut rahim. Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ sering tak menunjukkan gejala karena proses penyakitnya berada di dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata. Gejala yang kemudian timbul adalah keputihan, pendarahan pascasanggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. Jika sudah invasif, akan ditemukan gejala seperti pendarahan spontan, pendarahan pascasanggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa tak nyaman saat berhubungan seksual.

Penyakit kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari kondisi normal sampai menjadi kanker. Ada beberapa faktor yang langsung maupun tak langsung. Pertama, screening atau penapisan. Displasia sering ditemukan pada usia 20 tahun. Karsinoma in situ pada usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40 tahun.

Kedua, penularan melalui hubungan seksual. Penelitian menunjukkan tingginya kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada usia muda dan meningkatan dua kali lipat pada perempuan yang berhubungan seksual sebelum usia 16 tahun. "Juga meningkat pada perempuan dengan seksual partner yang multiple," katanya.

Ketiga, peran pasangan pria. Perempuan yang menikah dengan laki-laki yang pernah mempunyai istri menderita kanker mulut rahim, akan tertular juga. Keempat, karakteristik reproduksi dan menstruasi, dan faktor rokok.

Pencegahan efektif adalah pendeteksian dini dengan pemeriksaan pap smear. Semakin dini sel-sel abnormal terdeteksi, semakin rendah risiko kanker mulut rahim. Sebaiknya kaum wanita melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali setelah berhubungan seks, atau tiga bulan setelah melahirkan.

Pencegahan kanker serviks, tegas Ivan, merupakan langkah yang mesti dilakukkan. Caranya adalah mencegah hubungan seksual pada usia dini, menghindari hubungan seksual dengan pria yang pernah menikah dengan perempuan yang menderita kanker mulut rahim, tidak berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda dan tidak merokok, makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, yaitu sayuran yang banyak mengandung betakaroten, Vitamin C dan Vitamin E, dan vaksinasi terhadap virus papiloma. "Pemberian vaksin dilakukan sedini mungkin sebelum seseorang aktif melakukan hubungan seksual," tegas Ivan.

Pengobatan ditentukan oleh berat-ringan atau stadiumnya. Umumnya, operasi menjadi pilihan pertama pada stadium awal. Penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi), untuk kasus yang lanjut atau khusus. Ada juga gabungan dari operasi dan radiasi, operasi dan kemoterapi, atau operasi, radiasi dan kemoterapi.

Masing-masing terapi dilakukan menurut stadium kanker dan dengan pertimbangan kaidah dan risiko bagi pasien. Stadium O atau disebut juga lesi prakanker sangat mudah diobati dengan tindakan lokal. Pada stadium 1 (A dan B), pilihan pengobatan adalah operasi. Tetapi stadium 2B tidak lagi dioperasi, tetapi dilakukan radiasi dan kemoterapi. Stadium 3 dan 4 adalah stadium lanjut (A dan B). Pada stadium ini pun biasanya dilakuan radiasi dan kemoterapi

Sumber: Okezone

Tidak ada komentar:

Posting Komentar