Obat dan Terapi Kista, Mioma, Endometriosis, Benjolan Payudara dan Tumor Selain Operasi

Endometriosis

ENDOMETRIOSIS

Endometriosis merupakan salah satu penyakit ginekologik yang dewasa ini paling banyak mendapat perhatian para ahli dinegara-negara maju maupun dinegara berkembang, telah banyak penelitian yang dilakukan terhadap endometriosis, namun hingga kini penyebab dan patogenesisnya belum diketahui juga secara pasti. Namun dalam satu hal para ahli sepakat, bahwa pertumbuhan endometriosis sangat dipengaruhi oleh hormon steroid, terutama estrogen. Sebagian ahli sepakat bahwa nyeri pelvik, nyeri haid ataupun infertilitas erat kaitannya dengan endometriosis. (Mulyana, 2007)

DEFINISI

Endometriosis adalah suatu penyakit di mana bercak-bercak jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, padahal dalam keadaan normal endometrium hanya ditemukan di dalam lapisan rahim. Biasanya endometriosis terbatas pada lapisan rongga perut atau permukaan rongga perut. Endometrium yang salah tempat ini biasanya melekat pada ovarium dan ligamen penyokong rahim. Selain itu endometrium juga dapat melekat pada lapisan luar usus halus dan usus besar, ureter(saluran yang menghubungkan ginjal dan kandung kemih), kandung kemih, vagina, jaringan perut di dalam perut atau lapisan rongga dada. Kadang jaringan endometrium tumbuh di dalam paru-paru.(http://www.medicastore.com/, 2007)

Endometriosis dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang secara periodik mengalami perdarahan dan jaringan sekitarnya mengalami inflamasi dan perlekatan. Endometriosis pada umumnya terjadi pada usia reproduksi, walaupun demikian telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pasca menopause. Yang menarik perhatian adalah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Ternyata fungsi ovarium secara siklis yang terus menerus tanpa diselingi kehamilan, memegang peranan penting di dalam terjadinya endometriosis. (Mulyana, 2007)

ETIOLOGI

Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, namun beberapa ahli mengemukakan teori berikut:

1. Teori histogenesis menurut Sampson (1927).
Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa dalam darah haid didapati sel-sel endometrium yang masih hidup. Sel-sel endometrium yang masih hidup ini kemudiandapat mengadakan implantasi di pelvis.

2. Teori histogenesis menurut Robert Meyer (1919).
Endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. (Wikojosastro, 2005)

3. Teori menstruasi retrograd (teori yang bergerak mundur)
Sel-sel endometrium yang dilepaskan pada saat menstruasi bergerak mundur ke tuba falopii lalu masuk ke dalam perut atau panggul atau perut dan tumbuh di dalam panggul/perut. (Decherney, 2007)

4. Teori sistem kekebalan
Kelainan sistem kekebalan menyebabkan jaringan menstruasi tumbuh di daerah selain rahim.

5. Teori genetik
Keluarga tertentu memiliki faktor tertentu yang menyebabkan kepekaan yang tinggi terhadap endometriosis. (http://www.medicastore.com/, 2007)

6. Teori metaplastik
Menyatakan bahwa epitel coelom mengalami diferensiasi endometrial yang dalam analisis terakhir berasal dari endometrium itu sendiri. Teori ini tidak dapat menjelaskan lesi endometriotik di paru atau kelenjar getah bening.

7. Teori penyebaran vaskular atau limfa

Diajukan untuk menjelaskan tertanamnya endometrium di luar panggul atau di dalam kelenjar getah bening. (Kumar, 2007)

Meskipun terdapat banyak teori, namun dalam satu hal para ahli sepakat bahwa pertumbuhan endometriosis dipengaruhi oleh hormon steroid terutama estrogen.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang diduga dapat memicu timbulnya penyakit ini. Misalnya polusi udara, tayangan visual yang cepat mematangkan poros hormon, pola makan yang banyak mengandung residu, dan rendahnya aktivitas fisik. Karena itu, penting adanya perbaikan lingkungan dan gaya hidup untuk mencegah endometriosis. (Jacoeb, 2007)

PATOLOGI

Endometriosis sering terjadi di ovarium. Pada ovarium tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar berisi darah tua menyerupai coklat(endometrioma). Darah tua dapat keluar sedikit demi sedikit karena luka pada dinding kista dan dapat menyebabkan perlekatan antara permukaan ovarium dengan uterus, sigmoid dan dinding pelvis. Kista coklat kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak ke dalam rongga peritoneum karena robekan dinding kista. Tuba pada endometriosis biasanya normal. (Wikojosastro, 2005)

MANIFESTASI KLINIS

Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah:

1. Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid (dismenorea), penyebab mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan pada sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid.

2. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual (dispareunia), disebabkan karena adanya endometriosis di kavum Douglasi.

3. Nyeri saat defekasi, khususnya pada waktu haid. Disebabkan oleh karena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid/kandung kencing.

4. Infertilitas, disebabkan jika mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan di sekitarnya.

Pada pemeriksaan ginekologi, khususnya pada pemeriksaan vagino-rekto-abdominal, ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi dan pada ligamentum sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. (Wikojosastro, 2005)

DIAGNOSIS

Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemudian dipastikan dengan pemeriksaan laparoskopi. Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas, hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid dapat menjadi petunjuk adanya endometriosis pada kandung kencing. Untuk menentukan berat ringan endometriosis digunakan klasifikasi dari American Fertility Society. (Wikojosastro, 2005)

Pada pemeriksaan panggul akan teraba benjolan lunak yang sering kali ditemukan di dinding belakang vagina atau di daerah ovarium. Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

1. Laparoskopi, merupakan pemeriksaan yang sangat berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan-kelainan di pelvis.
2. Biopsi endometrium
3. USG rahim
4. Barium enema
5. CT scan atau MRI perut (http://www.medicastore.com/, 2007)
6. Sigmoidoskopi dan sitoskopi, dapat memperlihatkan tempat perdarahan pada waktu haid. (Wikojosastro, 2005)
7. Transvaginal sonography, untuk diagnosis endometrium di ovarium.
8. Rectal endoscopy sonography. (Bazot, 2007)
9. Eksisi pada ovarium yang bengkak diikuti pelepasan hormon GnRH agonis. (Trover, 2007)

PENGOBATAN

Pengobatan tergantung kepada rencana kehamilan, gejala, beratnya penyakit, dan umur. Yang diutamakan bahwa terapi untuk endometriosis adalah pemeriksaan gejala pertama yang muncul untuk memperbaiki diagnosis dan untuk menjamin bahwa gejala yang dialami pasien hanya dapat disebabkan oleh endometriosis.

a. Expectant management

Pengobatan ini dilakukan pada pasien yang tidak memiliki gejala, seperti wanita mandul dengan endometriosis ringan. Meskipun pada umumnya endometriosis dipercaya merupakan penyakit yang jumlah penderitanya terus meningkat, tidak ada bukti bahwa pengobatan pada pasien tanpa gejala akan mencegah gejala sebelumnya.

b. Analgesic therapy

Pengobatan dengan penghilang rasa nyeri. Obat-obatan ini merupakan terapi untuk pasien yang merasakan nyeri ringan sebelum menstruasi dari endometriosis ringan, hasil pemeriksaan panggul normal, dan tidak menginginkan cepat hamil. (H.Decherney, 2007)

c. Hormonal therapy

Tujuan pengobatan dengan terapi hormon untuk menghindari perdarahan pada jaringan endometrium. Pengobatan ini dilakukan dengan menggunakan:

1. Pil KB, merupakan pilihan baik untuk mengobati pasien dengan gejala ringan.
2. Progestin, berbagai jenis progestin (medroksiprogesteron asetat, noretisteron asetat, linestrenol, dll) pernah digunakan sebagai obat tunggal untuk terapi endometriosis. Dengan mengenal sifat-sifatnya, kita dapat memilih senyawa mana yang paling sesuai dengan terapi endometriosis dan efek samping apa yang mungkin terjadi).
3. Danazol, termasuk golongan hormon sintetik maskulin turunan dari androgen. Efek antigonadotropin Danazol ini terjadi dengan cara menekan FSH dan LH, sehingga terjadi penghambatan steroidogenesis ovarium. Karena androgen membebani fungsi hati, maka Danazol tidak dianjurkan pada penderita endometriosis dengan penyakit hati, ginjal, dan jantung. (Jacoeb, 2006)
4. GnRH agonis, merupakan zat yang pada mulanya merangsang pelepasan hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa, tetapi setelah diberikan lebih dari beberapa minggu akan menekan pelepasan gonadotropin. (Berek, 2002)

sumber : fkui.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar